Conduit : Tanah Kompresibal dan Tanah Nonkompresibel (part 3)

Tanah tidak kompresibel:

  • Yaitu tanah yang tidak mengalami perubahan bentuk akibat pembebanan. Mengingat struktur komponen pembentuk tanah, sebenarnya tanah tidak kompresibel tidak dapat terjadi (lihat penjelasan tentang tanah kompresibel).
  • Sifat tanah tidak kompresibel sebenarnya terjadi pada tanah tidak berkonsolidasi (proses konsolidasi tidak langsung), yang penyebabnya dapat terjadi dalam dua bentuk yaitu:
  • Tidak cukup waktu untuk berkonsolidasi atau tidak terdapat drainase untuk terjadi konsolidasi (konsolidasi pembebanan yang demikian dalam terminology geoteknik disebut undrained loading).
  • Tanah jenuh air (fulyl saturated).
  • Selanjutnya, untuk tanah perlu dilakukan analisis sebagai batasan untuk tanah yang kompresibel dan tidak kompresibel sebagai suatu batasan ekstrim dan kondisi sebenarnya.
  • Sebenarnya tanah yang nonkompresibel tidak memiliki relevansi praktis karena umumnya tanah adalah kompresibel.
  • Medium yang kompresibel dapat berupa fluida hingga solid yang kaku. Akan tetapi kondisi nonkompresibel mungkin dapat ditemui pada tanah yang unconsolidated dan jenuh air (saturated soil).



Aspek Pelaksanaan Konstruksi

    • Penempatan dan pemadatan tanah disekitar conduit sangat signifikan pengaruhnya terhadap distribusi tekanan tanah disekitar conduit dan bentuk deformasi conduit.
    • Teknik untuk meramalkan kedua faktor tersebut untuk keperluan perencanaan hingga saat ini belum tersedia untuk dapat digunakan secara rutin dalam perencanaan karena dua hal yaitu:

    • Proses yang akan diberlakukan dilapangan sangat bervariasi sehingga pemodelannya dalam tahap perencanaan menjadi tidak praktis.
    • Model yang komprehensif untuk mengikut sertakan semua proses belum tersedia.

    • Penyelesaian praktis untuk kesulitan tersebut hanyalah dengan melakukan pengawasan selama proses pelaksanaan dengan supervise yang ketat selama pelaksanaan dengan menggunakan material timbun yang cocok.
    • Material timbun yang cocok adalah yang mudah dipadatkan seperti pasir dan kerikil.
    • Perubahan bentuk conduit (terutama yang fleksibel) harus terus menerus diamati selama proses penimbunan.

    • Dalam perencanaan conduit, harus berlanjut dengan spesifikasi yang jelas tentang metode pemasangan, termasuk persyaratan yang harus dipenuhi untuk pemadatan.
    • Pelaksanaan konstruksi conduit dapat dibagi kedalam 3 (tiga) kategori:
    • Tanah parit, yaitu yang menekan (jacked) atau di bor.
    • Dengan parit atau gali dan timbun, dimana tanah asli digali kemudian ditimbun kembali setinggi tanah asli semula (ditch conduit).Puncak conduit umumnya terletak dibawah permukaan tanah asli

    • Penimbunan, dimana tinggi tanah diatas conduit merupakan tambahan, bukan tinggi awal permukaan tanah.


Ada tiga sub kategori pada cara ketiga (Penimbunan) yaitu:
  • Pertama, disebut dengan “positive projecting” dimana puncak conduit diatas permukaan tanah asli dan di bawah top embankment
  • Kedua, disebut dengan “negative projecting” dimana dilakukan galian parit dangkal sebelum dilaksanakan penimbunan pada negative projecting. Puncak conduit di bawah permukaan tanah asli dan top embankmentkarena kekakuan tanah asli lebih besar dari kekakuan tanah timbun maka gaya yang bekerja selalu lebih kecil dari gaya yang bekerja pada kasus “positive projecting”
  • Ketiga, disebut dengan “induced trench” dimana pengaruh pengurangan beban (positive arching) seperti yang diperoleh pada kasus galian dengan parit diperoleh dengan menempatkan “inklusi” lunak diatas conduit.
    • Inklusi lunak yang digunakan dapat berupa jerami padi atau potongan kecil kayu.
    • Inklusi ini mengurangi beban pada struktur


Labels: Bangunan Geoteknik, Conduit, Geoteknik

Thanks for reading Conduit : Tanah Kompresibal dan Tanah Nonkompresibel (part 3). Please share...!

0 Comment for "Conduit : Tanah Kompresibal dan Tanah Nonkompresibel (part 3)"

Back To Top